Ahmadiyah, Kelompok Pengekor Nabi Palsu
Apa itu Ahmadiyah?
Ahmadiyah adalah gerakan yang lahir pada tahun 1900 M, yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Inggris di India. Didirikan untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama Islam dan dari kewajiban jihad dengan gambaran/bentuk khusus, sehingga tidak lagi melakukan perlawanan terhadap penjajahan dengan nama Islam. Gerakan ini dibangun oleh Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani. Corong gerakan ini adalah "majalah al-Adyan" yang diterbitkan dengan bahasa Inggris.
Siapa Mirza Ghulam Ahmad?
Mirza Ghulam hidup pada tahun 1839-1908 M. Dia dilahirkan di desa Qadian, di wilayah Punjab, India tahun 1839 M. Dia tumbuh di keluarga yang terkenal suka khianat kepada agama dan negara. Begitulah dia tumbuh, mengabdi kepada penjajahan dan senantiasa mentaatinya. Ketika dia mengangkat dirinya menjadi nabi, kaum muslimin bergabung dan menyibukkan diri dengannya sehingga mengalihkan perhatian dari jihad melawan penjajahan Inggris. Oleh pengikutnya dia dikenal sebagai orang yang menghasut/berbohong, banyak penyakit, dan pecandu narkotik.
Pemerintah Inggris banyak berbuat baik kepada mereka. Sehingga dia dan pengikutnya pun memperlihatkan loyalitas kepada pemerintah Inggris.
Di antara yang melawan dakwah Mirza Ghulam adalah Syaikh Abul Wafa', seorang pemimpin Jamiah Ahlul Hadits di India. Beliau mendebat dan mematahkan hujjah Mirza Ghulam, menyingkap keburukan yang disembunyikannya, kekufuran serta penyimpangan pengakuannya.
Ketika Mirza Ghulam Ahmad masih juga belum kembali kepada petunjuk kebenaran, Syaikh Abul Wafa' mengajaknya bermubahalah (berdoa bersama), agar Allah mematikan siapa yang berdusta di antara mereka, dan yang benar tetap hidup. Tak lama setelah bermubahalah, Mirza Ghulam Ahmad menemui ajalnya tahun 1908 M.
Pada awalnya Mirza Ghulam berdakwah sebagaimana para dai Islam yang lain, sehingga berkumpul di sekelilingnya orang-orang yang mendukungnya. Selanjutnya dia mengklaim bahwa dirinya adalah seorang mujaddid (pembaharu). Pada tahap berikutnya dia mengklaim dirinya sebagai Mahdi al-Muntazhar dan Masih Al-Maud. Lalu setelah itu mengaku sebagai nabi dan menyatakan bahwa kenabiannya lebih tinggi dan agung dari kenabian nabi kita Muhammad SAW.
Dia mati meninggalkan lebih dari 50 buku, buletin serta artikel hasil karyanya.
Di antara kitab terpenting yang dimilikinya berjudul Izalatul Auham, I'jaz Ahmadi, Barohin Ahmadiyah, Anwarul Islam, I'jazul Masih, at-Tabligh dan Tajliat Ilahiah.
Pemikiran dan Keyakinan Ahmadiyah
Meyakini bahwa Mirza Ghulam adalah al-masih1 yang dijanjikan.
Meyakini bahwa Allah berpuasa dan melaksanakan shalat; tidur dan mendengkur; menulis dan menyetempel; melakukan kesalahan dan berjimak. Maha tinggi Allah setinggi-tingginya dari apa yang mereka yakini.
Keyakinan Ahmadiyah bahwa tuhan mereka adalah Inggris, karena dia berbicara dengannya menggunakan bahasa Inggris.
Berkeyakinan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan memberikan wahyu dengan diilhamkan sebagaimana al-Qur'an.
Menghilangkan aqidah/syariat jihad dan memerintahkan untuk mentaati pemerintah Inggris, karena menurut pemahaman maereka pemerintah inggris adalah waliul amri (pemerintah Islam) sebagaimana tuntunan Al-Qur'an
Seluruh orang Islam menurut mereka kafir sampai mau bergabung dengan Ahmadiyah. Seperti bila ada laki-laki atau perempuan dari golongan Ahmadiah yang menikah dengan selain pengikut Ahmadiyah, maka dia kafir.
Membolehkan khamer, opium, ganja, dan apa saja yang memabukkan.
Mereka meyakini bahwa kenabian tidak ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad akan tetapi terus ada. Allah mengutus rasul sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Dan Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang paling utama dari para nabi yang lain.
Mereka mengatakan bahwa tidak ada al-Qur'an selain apa yang dibawa oleh Mirza Ghulam Ahmad. Dan tidak ada al-Hadits selain apa yang disampaikan di dalam majelis Mirza Ghulam. Serta tidak ada nabi melainkan berada di bawah pengaturan Mirza Ghulam Ahmad.
Meyakini bahwa kitab suci mereka diturunkan (dari langit), bernama `Al-Kitab al-Mubin', bukan al-Qur'an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin.
Mereka meyakini bahwa al-Qadian (tempat awal gerakan ini) sama dengan Madinah al-Munawarrah dan Mekkah al-Mukarramah; bahkan lebih utama dari kedua tempat suci itu, dan suci tanahnya serta merupakan kiblat mereka dan ke sanalah mereka berhaji.
Mereka meyakini bahwa mereka adalah pemeluk agama baru yang independen, dengan syariat yang independen pula; seluruh teman-teman Mirza Ghulam sama dengan sahabat Nabi Muhammad SAW
Akar Pemikiran dan Keyakinan Ahmadiyah
Bermula dari gerakan orientalis bawah tanah yang dilakukan oleh Sayyid Ahmad Khan yang menyebarkan pemikiran-pemikiran menyimpang; yang secara tidak langsung telah membuka jalan bagi munculnya gerakan Ahmadiyah.
Inggris menggunakan kesempatan ini dan membuat gerakan Ahmadiyah, dengan memilih untuk gerakan ini seorang lelaki pekerja dari keluarga bangsawan.
Pada tahun 1953 M, terjadilah gerakan sosial nasional di Pakistan menuntut diberhentikannya Zhafrillah Khan dari jabatannya sebagai menteri luar negeri. Gerakan itu dihadiri oleh sekitar 10 ribu umat muslim, termasuk pengikut kelompok Ahmadiyah, dan berhasil menurunkan Zhafrillah Khan dari jabatannya.
Pada bulan Rabiulawwal 1394 H, bertepatan dengan bulan April 1974 M, dilakukan muktamar besar oleh Rabhithah Alam Islami di Mekkah al-Mukarramah yang dihadiri oleh tokoh-tokoh lembaga-lembaga Islam seluruh dunia. Hasil muktamar memutuskan "kufurnya kelompok ini dan keluar dari Islam. Meminta kepada kaum muslimin berhati-hati terhadap bahaya kelompok ini dan tidak bermuamalah dengan pengikut Ahmadiyah, serta tidak menguburkan pengikut kelompok ini di pekuburan kaum muslimin."
Majelis Ummat (parlemen) Pakistan melakukan debat dengan gembong kelompok Ahmadiyah benama Nasir Ahmad. Debat ini belangsung sampai mendekati 30 jam. Nasir Ahmad menyerah/tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan tersingkaplah kedok kufurnya kelompok ini. Maka majelis pun mengeluarkan keputusan bahwa kelompok ini lepas dari agama Islam.
Hal-Hal yang Mewajibkan Kafirnya Mirza Ghulam Ahmad:
Pengakuannya sebagi nabi.
Menghapus kewajiban jihad dan mengabdi kepada penjajah.
Meniadakan berhaji ke Mekkah dan menggantinya dengan berhaji ke Qadian.
Penyerupaan yang dilakukannya terhadap Allah dengan manusia.
Kepercayaannya terhadap keyakinan tanasukh (menitisnya ruh) dan hulul (bersatunya manusia dengan tuhan).
Penisbatannya bahwa Allah memiliki anak, serta klaimnya bahwa dia adalah anak tuhan.
Pengingkarannya terhadap ditutupnya kenabian oleh Muhammad SAW, dan membuka pintu tersebut bagi siapa saja yang menginginkannya.
Penyebaran dan Aktifitas
Penganut aliran Ahmadiyah kebanyakan hidup di India dan Pakistan dan sebagian kecilnya di Israel dan wilayah Arab. Mereka senantiasa membantu penjajah agar dapat membentuk/ membangun sebuah markas di setiap negara di mana mereka ada.
Ahmadiyah memiliki pekerjaan besar di Afrika dan pada sebagian negara-negara Barat. Di Afrika saja mereka beranggotakan kurang lebih 5 ribu mursyid dan dai yang khusus merekrut manusia kepada kelompok Ahmadiyah. Dan aktifitas mereka secara luas memperjelas bantuan/dukungan mereka terhadap penjajahan.
Keadaan kelompok Ahmadiyah yang sedemikian, ditambah perlakuan pemerintahan Inggris yang memanjakan mereka, memudahkan para pengikut kelompok ini bekerja menjadi pegawai di berbagai instansi pemerintahan di berbagai negara, di perusahaan-perusahaan dan persekutuan-persekutuan dagang. Dari hasil kerja mereka itu dikumpulkanlah sejumlah dana untuk membiayai dinas rahasia yang mereka miliki.
Dalam menjalankan misi, mereka merekrut manusia kepada kelompok Ahmadiyah dengan segala cara, khususnya media massa. Mereka orang-orang yang berwawasan dan banyak memiliki orang pintar, insinyur dan dokter. Di Inggris terdapat pemancar dengan nama "TV Islami" yang dikelola oleh penganut kelompok Ahmadiyah ini
Pemimpin-Pemimpin Ahmadiyah
Pemimpin Ahmadiyah sepeninggal Mirza Ghulam bernama Nurruddin. Pemerintah Inggris menyerahkan kepemimpinan Ahmadiah kepadanya dan diikuti para pendukungnya. Di antara tulisannya berjudul "Fashlb al-Khithab".
Pemimpin lainnya adalah Muhammad Ali dan Khaujah Kamaluddin. Amir Ahmadiyah di Labor. Keduanya adalah corong/ahli debat kelompok Ahmadiyah.
Muhammad Ali telah menulis terjemah al-Qur'an dengan perubahan transkripnya ke dalam bahasa Inggris. Tulisannya yang lain, "Haqiqat al-Ikhtilaf an-Nubuwwah fi al-Islam" dan "ad-Din al-Islami".
Khaujah Kamaluddin menulis kitab yang berjudul "Matsal al-A`la fi al-Anbiya"' serta kitab-kitab lain.
Jamaah Ahmadiyah Lahor ini berpandangan bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah seorang mujadid. Tetapi yang berpandangan seperti ini dan yang tidak, mereka sama saja saling mengadopsi satu sama lain.
Muhammad Shadiq, mufti kelompok Ahmadiyah. Di antara tulisannya berjudul, "Khatam an-Nabiyyin".
Basyir Ahmad bin Ghulam, pemimpin pengganti kedua setelah Mirza Ghulam Ahmad. Di antara tulisannya berjudul "Anwar al-Khilafah", "Tuhfat al-Muluk", "Haqiqat an-Nubuwwah"
Dzhafrilah Khan, menteri luar negeri Pakistan. Dia memiliki andil besar dalam menolong kelompok sesat ini, dengan memberikan tempat luas di daerah Punjab sebagai markas besar Ahmadiyah sedunia, dengan nama Robwah Isti'aroh (tanah tinggi yang datar) yang diadobsi dari ayat al-Qur'an:
Dan Kami melindungi mereka di suatu Robwah Istiaroh (tanah tinggi yang datar) yang banyak terdapatpadang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir. (Q.S. al-Mukminun:50)
Kesimpulan
Ahmadiyah adalah kelompok sesat yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Aqidah (keyakinan) mereka berbeda dengan keyakinan agama Islam dalam segala hal. Kaum muslimin perlu diperingatkan atas aktifitas mereka, setelah para ulama Islam memfatwakan bahwa kelompok ini kufur.
Maraji`:
1. Al-Mausu'ahal Muyassarahfial Adyan wa al-Madzahib wa al-Ahzab al-Mu'ashirah, oleh Dr. Mani' Ibnu Hammad al-Jahani.
2. Tabshir al Adyan bi ba di al-Madzahib wa al Adyan, oleh Muhammad as-Sabi'i
Wallahu a'lamu
[ Disusun dan dialihbahasakan oleh Abu Asiah ]
Dicopy dari: Majalah Fatawa. Vol.06.ThII.1425H.2004M
--------------------------------------------------------------------------------
Rasulullah SAW mengabarkan bahwa di akhir zaman nanti -sebelum terjadinya kiamat- Allah SWT akan mengutus al-Masih (Nabi Isa) ke bumi untuk memerangi Dajjal. Mirza Ghulam tanpa rasa malu mengklaim bahwa dirinyalah Nabi Isa yang ditunggu kedatangannya itu. Bukan hanya itu, dia juga mengaku sebagai Imam Mahdi.
INDONESIA
Tulisan Berjalan
Saturday, 2 April 2011
Ahmadiyah
Tuesday, 8 February 2011
Tentang Sahabat
Aku bangga dapati dirimu seadanya..
kupikir, pantaslah dirimu kutemani
aku bahagia, sungguh ingin terurai kata...
KAULAH SAHABATKU....
bila hari-harimu berselimutkan duka
kudoakan Damai bagimu
bila hari-harimu tertimpa bahaya
kudoakan KASIH bagimu
bila hari-harimu berlarut ceria
kudoakan BAHAGIA bersamamu
selama matahari masih terbit dan tenggelam
selama bulan dan bintang dilangit masih bercahaya
selama panas dan hujan masih silih berganti
AKULAH SAHABATMU
bersama kita merangkai KARSA
bersama kita menyusun CERITA
bersama kita satukan ASA
berjalan terus bersama CINTA
bila mungkin adanya, kita kan bersama
selalu dan selamanya
dalam doa dan pinta......
BAHAGIA....
Akhirnya............................
Saya mengucapkan terima kasih banyak buat atasan ,rekan - rekan ataupun karyawan semuanya , yang tidak bisa saya sebut kan satu persatu . Saya minta mohon maaf sebesar2nya jika ada kesalahan baik disengaja ataupun tidak . Saya akan menjaga tali persaudaraan yang sudah kita jalin selama ini bisa tetap di pertahankan .
Benua Atlantis Yang Hilang Itu...INDONESIA!
Oleh : Aulia Agus Iswar
Pren, pada pernah denger cerita ttg Atlantis khan? Itu tuh, yang katanya negeri besar yang sangat megah dan jaya. Jadul (jaman dulu) Atlantis itu menjadi pusat peradaban dunia, tepatnya puluhan ribu tahun yang lalu. Walaah, kita masih di alam arwah, belum lahir ya, kepikiran aja belum kali. Kata Plato (427 - 347 SM) puluhan ribu tahun yang lalu itu gunung berapi meletus bareng-bareng, menimbulkan gempa, es mencair, dan banjir gede. Akibatnya nih, sebagian permukaan bumi tenggelam alias hilang. Nah, salah satu yang hilang itu adalah Negeri, lebih tepatnya, Benua Atlantis. Yap, mangkanye nih kita sering denger "Atlantis yang Hilang".
Tapi tau ga, Pren? Sekarang Benua Atlantis itu dah ketemu, maksudnya dah diketemuin. Mana? Koq ga keliatan? Ya Allah, segede gini ga keliatan? Nih, simak hasil penelitian Aryso Santos (2005). Menurut dia Benua Atlantis itu ternyata adalah bumi yang sekarang kita injak-injak, ih..kasar banget sich, maksudnya bumi yang kita menginjakkan kaki di atasnya ini. Ah, yang bener nih? Gimana caranya coba? Jadi Mas Santos ini ngebandingin 33 hal (termasuk luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani) antara kondisi fisik Benua Atlantis sama kondisi fisik Indonesia sekarang. Ternyata sama tuh. Luas wilayah Atlantis jadul terbentang dari Selatan India, terus Sabang sampe Merauke (kayak lagu aja..). Ribuan pulau di Indonesia sekarang, jadul-nya menyatu. Mungkin karena penghuninya telah lupa padaNya, bergelimang dosa dan berhura-hura, azab Allah pun turun. Dan terjadilah bencana besar itu, gunung berapi meletus bareng-bareng. Dahsyat, Maan! Sebagian daratan tenggelam dan jadi lautan. Sebagiannya lagi bakal jadi pulau-pulau kayak sekarang.
Nah, Pren. Coba renungin nih! Indonesia katanya sarang koruptor, sarang teroris, tukang bikin dosa (di mana mangkalnya ya?), terbelakang, utangnya bejibun, makannya banyak, males, ngantukan, telatan, tukang nyontek; waduh! Bener ga sich? Emang bener sich, tapi moga-moga yang ngebaca nih tulisan ga kayak gitu yak. Itu kondisi sekarang. Tapi jadul Indonesia, yang kata Mas Santos tadi adalah Atlantis, pernah menjadi pusat peradaban dunia, Cing! Berarti nih Indonesia jadul dihuni oleh orang-orang yang hebat dan maju. So, para sesepuh kita keren-keren donk?
Jadi sekarang gimana, Pren? Bangga donk kita kalo gitu. Tapi apa cukup bangga doank? Nggak khan? So, kita kudu berubah (saatnya berubah!). Kita kudu semangat, disiplin, kerja keras, belajar yang banyak, ta'at beribadah, jauhi perbuatan dosa. Intinya kita harus menjadi mu'min yang sejati gituu.. Spiritnya donk spiriiittt! Biar kejayaan Atlantis terulang kembali di Indonesia ini. Dan yang lebih penting lagi, karena jumlah muslim terbesar dunia ada di sini, peradaban muslim Indonesia bakalan maju dan jaya.
OK, Pren. Jadul aja bisa, kenapa sekarang enggak!? Tul khan? (a2i)
Duka Telah Memagut Cinta
Duka memang membuat resah jiwa
Gamang, mengisi hari-harinya
Tapak kaki pun menjadi goyah bahkan tak sanggup lagi melangkah
Namun...
Adakah gundah gulana akan mengembalikan semua kenangan indah?
Raut wajahnya kuyu dan kusam. Mata sembab menyisakan isak tangisan. Kepedihan masih terasa menyayat dan menggurat, menghela tumpukan gundah di dada yang semakin membuncah.
Perlahan rapuh meranggas jiwanya hingga raga lelah dan kalah. Pupus segala harap, melukai indahnya impian masa depan. Perih ditatapnya setiap sudut rumah, apa yang tampak seperti ingin bercerita. Hati kecilnya ingin berontak, namun kenyataan tak dapat diingkari dengan mudah. Tak kuasa jiwa menahannya, tumpah, dalam derai air mata.
Dalam sesegukan yang memilukan, terbentang serpihan siluet kenangan.
Sederhana...
Hanya sepatah kata yang dapat menggambarkan sosok dirinya. Lelaki itu memang biasa saja. Namun, setiap sentuhan dan ucapannya selalu bermakna cinta yang teramat dalam. Ia pun tak pernah ragu menantang kerasnya kehidupan. Bau keringatnya setelah seharian mencari nafkah, selalu menebarkan aroma kerinduan.
Lelaki itu sungguh biasa saja. Ia hadir saat hati ini telah terlalu lelah berharap, lalu berikrar untuk selalu bersama dalam sebuah ikatan cinta. Tak ada yang dijanjikannya, kecuali hasrat menyulam pinta keridhoan Sang Pencipta. Waktu pun bergulir indah, bersama mengecap manisnya mahligai cinta.
Hari-hari yang telah berlalu menjadi begitu penuh warna. Ceria selalu mengisi rongga dada. Resah yang terkadang singgah, terhapus oleh kebesaran jiwa. Duhai Pemilik Cinta, betapa sujud panjang dan tetesan air mata kesyukuran, seakan tak ada artinya dengan apa yang telah Engkau berikan.
Hingga...
Badai menerpa. Laut bagaikan bergolak, langit pecah dan bumi merekah. Pengabdian tanpa kenal lelah demi keluarga tercinta berbuah derita. Sakit pun menyiksa hari-hari yang panjang lalu menidurkan untuk selama-lamanya. Duka telah memagut mati cinta, "Wahai jiwa yang tenang, keluarlah sekarang dengan ampunan dan kerelaan-Nya."
Kini belahan jiwa yang dikasihi terbujur kaku, berselimut putih. Hanya tetesan air mata kepiluan yang terdengar memecahkan sunyi. Tak ada lagi tawa canda, untaian nasehat atau pun lantunan syahdu ayat suci al-Qur'an saat dirinya masih berada di sisi. Semuanya hanyalah kenangan yang menebarkan repihan duka, hingga membentuk anak-anak sungai di pelupuk mata.
Yaa Robbi..
Sanggupkah diri ini menghadapi sisa hidup tanpa kekasih hati?
Kehilangan pasangan jiwa telah membuat terpuruk jiwa dan raganya. Tegar yang dulu bersemayam, luruh dalam kepiluan dan kekhawatiran. Jiwa pun tak mampu menahan ketidakberdayaan. Duka yang disengat kematian memporak-porandakan cinta dan hasrat hidup bahagia selama-lamanya. Gamang, seakan tak ada lagi tempat berpijak untuk masa depan.
Namun...
Andaikan aqad nikah adalah awal dari sebuah cerita indah dalam kehidupan dua anak manusia, maka perpisahan dengan pasangan jiwa bukanlah akhir dari segalanya. Memang, pasti ada yang hilang. Namun, masih ada pula banyak tinta pena untuk menulis kisah selanjutnya. Kisah-kisah yang tak kalah indah seperti kisah regukan cinta di malam pertama.
Sungguh tak ringan untuk memahami kenyataan bahwa duka telah memagut cinta, namun roda kehidupan tak pernah berhenti berputar. Gundah dan keluh kesah yang tak habis-habisnya pun tak akan mengembalikan dirinya ke dunia fana. Bukankah yang terbaik adalah menata hati, jiwa dan raga demi masa depan?
Pasti tak mudah untuk membuka mata dan menatap bentangan jalan di muka. Hidup memang selalu mengukir kenangan, namun seharusnya hidup juga punya berjuta harapan.
Semoga.
-Dikutip kembali dengan sedikit perubahan dari buku Sapa Cinta dari Negeri Sakura, 2005-
Remaja di Persimpangan Jalan
Adi Supriadi
Para remaja muda-mudi kita adalah warisan kita bagi masa depan. Mereka adalah aset yang berharga agar agama Islam tetap dihayati dan dipraktikkan oleh masyarakat Islam di masa yang akan datang. Mereka adalah harapan masyarakat dan negara. Maka adalah penting bagi kita memastikan agar mereka bersedia untuk membawa panji perjuangan kita di masa yang akan datang. Mereka mesti menjadi orang-orang yang bisa diharapkan, bukan saja untuk membina masyarakat dan negara yang maju, tetapi yang lebih penting adalah agar Islam akan terus menjadi panduan masyarakat.
Alhamdulillaah, sekarang sudah banyak contoh-contoh yang baik yang bisa kita ambil sebagai teladan. Kita mempunyai golongan muda-mudi Islam yang bisa menjadi kebanggaan dan harapan masyarakat. Dan sekarang kita melihat semakin ramai anak muda kita yang mempunyai kesadaran dan penghayatan terhadap agama Islam. Mereka ingin mempraktikkan Agama Islam dalam semua aspek kehidupan mereka. Ini harus dibanggakan dan disebarluaskan agar lebih semarak remaja dan golongan muda menjadikan Islam sebagai kehidupan mereka.
Akan tetapi masih banyak di kalangan remaja kita yang terbawa budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai murni Islam. Sebagai contoh, setiap tahun lebih dari 100 pasangan Islam mendaftarkan diri untuk menikah dengan calon istri yang sudah hamil. Sebagian besar di antara mereka akan melahirkan anak diluar nikah sementara sebagian kecil menggugurkan kandungan mereka. Adakah ini yang kita inginkan dalam masyarakat Islam kita? Adakah ini yang dikatakan sebagai khairul ummah atau sebaik-baik umat?
Semakin banyak remaja kita yang tanpa segan dan malu membuka aurat mereka. Malah ada yang lebih berani lagi. Mereka berdua-duaan dan berkelakuan tidak senonoh di tempat umum. Ini bertentangan dengan ajaran Islam. Pertanyaannya, mengapa mereka melakukan hal yang demikian?
Banyak faktor yang berperan. Tetapi yang paling terlihat adalah faktor pendoktrinan terhadap budaya-budaya asing (Ghazwul Fikr). Kalau zaman dahulu ada televisi. Sekarang ini kita menghadapi pula teknologi internet dan televisi kabel yang mana segala bentuk informasi dapat diraih hanya dengan menekan tombol remote saja.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa internet dan televisi kabel membawa kebaikan. Dengannya kita lebih tahu perkembangan dunia dan ilmu-ilmu sains terkini. Masyarakat kita tidak lagi seperti katak di bawah tempurung. Berbagai manfaat yang dapat kita peroleh.
Akan tetapi internet dan televisi kabel juga membawa unsur-unsur yang bertentangan dengan nilai Islam. Dan jika kita tidak dibentengi dan diperkuat dengan agama, maka kita juga bisa terpedaya dengan unsur-unsur negatif tersebut. Setiap kali kita menonton film barat, akan dipaparkan adegan-adegan yang tidak sesuai dengan Islam. Setiap kali kita menonton televisi kita akan mendengar perkataan-perkataan jorok. Setiap kali kita menonton televisi kita akan disajikan dengan gaya hidup yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Bayangkanlah! Seorang remaja yang masih memerlukan bimbingan dalam kehidupan mereka, disajikan setiap hari dengan budya hidup yang bertentangan dengan Islam, tidakkah ia akan mudah terpengaruh?
Di internet pula, halaman porno dengan mudah dilihat. Kalau ini menjadi menu harian kepada anak-anak Islam kita semasa mereka sedang ABG, maka tidak heran akhirnya nilai-nilai Islam menjadi asing bagi mereka. Dalam kondisi semacam ini, siapakah yang harus disalahkan?
Setiap orang tua bertanggung-jawab mendidik anak-anak mereka dengan nilai-nilai Islam. Anak-anak adalah amanah Allah. Dan Allah akan minta pertanggungjawaban kita di akhirat kelak mengenai pendidikan terhadap anak-anak kita tersebut. Berapa banyak orang tua yang akan diseret ke neraka atas perbuatan anak-anak mereka?!
Kita tidak boleh menyalahkan televisi kabel atau internet atas keruntuhan akhlak para remaja dan pemuda zaman sekarang ini. Sebaliknya kita perlu merenung kembali. Adakah kita sudah memainkan peranan yang secukupnya sebagai seorang Ayah atau ibu dan atau sebagai seorang abang atau kakak? Adakah kita sudah memainkan peranan dalam mendidik dan menanamkan keimanan dalam jiwa anak-anak muslim kita sehingga mereka tidak mudah terperdaya? Sudahkan anak-anak kita diberi pengajaran Islam yang secukupnya untuk mereka menghadapi dunia sekarang yang penuh godaan ini.
Anak-anak semula memandang orang tua mereka sebagai panduan hidup mereka. Sekiranya orang tua tidak memberikan contoh yang baik, sekiranya orang tua sendiri terpengaruh dengan unsur-unsur negatif Barat, maka tidak heranlah jika anak-anak mereka juga berkelakukan demikian. Seperti kata pepatah : Ayah Kencing Berdiri, anak Kencing berlari.
Akan tetapi kalau orang tua menunjukkan contoh yang baik terhadap anak-anak mereka, menjadikan keluarga mereka sebagai keluarga Islami, yang menerapkan nilai-nilai Islam dalam keluarga mereka, maka percayalah, anak-anak mereka juga akan menjadikan Islam sebagai panduan kehidupan mereka.
Melalui tulisan kali ini, saya ingin menyeru kepada para remaja dan pemuda kita, agar menyadari bahwa mereka adalah harapan keluarga dan negara. Jika mereka menjalankan tanggung-jawab sebagai Pemuda Islam yang dinamis, maka masyarakat kita dan negara akan menjadi lebih maju lagi. Akan tetapi jika mereka lebih mementingkan keseronokan dan hiburan sehingga lalai dari tanggung-jawab, maka masyarakat dan negara kita akan menjadi lemah.
Sebagai remaja Muslim, kita mempunyai empat tanggung-jawab :
Pertama : Kita WAJIB sadar bahwa waktu remaja bukanlah untuk berhura-hura, tetapi waktu tersebut WAJIB diisi dengan mencari ilmu pengetahuan dan menghayati Agama Islam. Jadikan waktu tersebut sebagai persiapan untuk menghadapi masa depan apabila kita semakin tua kelak.
Kedua : Kita tidak mudah terperdaya dengan unsur-unsur negatif. Ambillah budaya yang baik dari siapapun dalam mencari dan meningkatkan ilmu. Tetapi kekalkan akhlak dan cara kehidupan orang Islam. Kita akan menjadi orang yang paling disegani dan dihormati kelak. Kita akan Mulia di dunia dan di akhirat, insya Allah.
Ketiga : Sebagai remaja, janganlah kita menghabiskan masa berkhayal dengan perasaan cinta dan mencari pasangan. Hal itu tidak membawa banyak hasil. Malah waktu kita yang berharga yang sepatutnya dihabiskan dengan mencari ilmu atau berbakti kepada masyarakat.
Keempat : Hormatilah Orang Tua kita, walaupun pada pandangan kita mereka tidak memahami jiwa dan perasaan kita. Sesungguhnya, Orang tua kita adalah pintu syurga. Sekiranya kita tidak sependapat dengan mereka maka katakanlah dengan nada yang lembut dan sopan, bukan dengan membentak dan menunjukkan marah.
Firman Allah SWT dalam surah Al-Isra', ayat 23 yang artinya, "Dan Tuhanmu telah menentukan agar kamu jangan menyembah melainkan Allah dan hendaklah kamu berbuat baik dengan mereka. Jika salah seorang dari mereka atau kedua-dua mereka telah berusia tua, maka janganlah berkata kasar kepada mereka, akan tetapi ucapkan kepada mereka dengan ucapan yang baik dan lembut."
Penulis adalah Putra Kelahiran Ketapang Kalimantan Barat,
Alumni S1 Fakultas Dakwah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Haudl Ketapang,Kalimantan Barat
Aktivitas saat ini :
Mahasiswa S2 Manajemen Pemasaran Universitas Winaya Mukti Bandung, Jawa Barat.
Asisten Manager Human Resources Management PT Rabbani Asysa Garment Bandung, Jawa Barat.
Direktur Eksekutif Gerakan Pekerja Raih Sejahtera (GPRS) Bandung Jawa Barat
Ketua Umum Forum Majlis Ta'lim Pekerja (FORMATAP) Bandung Jawa Barat
Sekretaris Divisi Tani Tenaga Kerja & Buruh (TTKB) DPD PK Sejahtera Kota Bandung, Jawa Barat
Penulis di Media Online dan Penceramah diberbagai talkshow dan majlis Ta'lim Pekerja/Buruh di Kota Bandung, Jawa Barat
Saat Diri Harus Beranjak Pergi
Oleh : Ferry
Hingar bingar berganti sunyi senyap
Perlahan...
Jiwa terbang ke angkasa, menembus segala sekat
Gelap atau terang, sempit maupun lapang adalah sebuah keniscayaan
Buah dari segala perbuatan yang engkau lakukan
Jiwa meregang...
Tubuh pun bergetar hebat, berbaur jeritan ketakutan atau linangan air mata bahagia karena ingin bertemu Rabb-nya.
Ditarik, dan dicerabut dari setiap urat nadi, syaraf dan akar rambut. Ini sebuah titah, ia harus kembali kepada pemilik-Nya. Allahu Akbar, janjiMu telah tiba.
Yaa Robbi, alangkah perih dan pedih.
Sakit laksana tiga ratus tusukan pedang, atau ringan bagaikan sebuah pengait saat dimasukkan dan ditarik dari gumpalan bulu yang basah. Duhai jiwa, seandainya engkau tahu bahwa sakaratul maut itu lebih ngeri dan dahsyat dari semua sketsa yang ada.
Sayup terdengar lantunan ayat suci al-Qur'an, dan sesegukan air mata yang tumpah. Lalu, hening berbalut sepi. Semakin hening, bening, menggantikan hingar bingar dunia di kala pagi yang penat dan siang yang meranggas. Diam pun menyisakan kepiluan, kesedihan atau berjuta kenangan. Dia telah pergi, dan tak akan pernah kembali.
Yaa Allah...
Inikah kepastian yang telah Engkau tetapkan?
Di mana tumpukan harta yang telah terkumpul sekian lama? Pelayan yang setia, rumah mewah, kendaraan, kebun rindang dan subur, pakaian yang indah, dan orang-orang tercinta, dimanakah kini kalian berada? Semua telah direnggut kematian, dicampakkan dan dihempaskannya kenikmatan dunia yang dahulu terlalu dielu-elukan. Adakah segala amanah dapat menuai pahala, duhai Allah.
Kegelapan pun menyeruak, hitam pekat laksana jelaga. Sungguh mengerikan sebagian jiwa yang akan berteman dengan amalan jahat hingga tibanya hari kiamat. Mencekam, berbaur jeritan keras memekakkan telinga, "Jangan Kau datangkan kiamat yaa Allah, sungguh aku disini sudah sangat tersiksa!!!" saat diperlihatkan tempatnya di neraka.
Bagi sebagian lainnya, alam kubur justru membuat bahagia. Berteman amal sholeh yang diibaratkan sebagai manusia dengan paras sangat menyenangkan. Lalu ia pun menjerit, menangis bahagia saat ditunjukkan tempatnya di surga, "Datangkan hari kiamat sekarang yaa Allah, aku ingin segera ke sana!!!"
Kematian...
Erat menyiratkan takut dan pilu serta lantunan senandung duka. Menciptakan nada-nada pedih dan gamang yang kadang menghujam iman, hingga hati pun bertanya, mengapa selalu ada perpisahan? Rasa itu menghantam dan menikam pada keluarga yang ditinggalkan.
Namun kematian adalah suatu keniscayaan, karena ia telah dijanjikan. Kematian pun hakikatnya adalah sahabat akrab bagi setiap yang bernyawa. Sayang, kesadaran itu begitu menghentak saat orang-orang yang kita cintalah yang direnggutnya. Ketika itu auranya begitu dekat, serasa setiap helaan nafas beraroma kematian.
Duhai jiwa...
Sadarkah engkau bahwa kelak kuburan adalah tempat peristirahatan? Sudahkah engkau siapkan malam pertama di sana, seperti kau sibukkan diri menjelang malam pertama pernikahan? Tidakkah engkau tahu bahwa ia adalah malam yang sangat mengerikan. Malam yang membuat orang-orang sholeh menangis saat memikirkannya.
Kau gerakkan lidah ini untuk membaca al Qur'an, tetapi tingkah lakumu tak pernah kau selaraskan. Kau kenal setan, tapi mereka kau jadikan teman. Kau ucapkan bahwa RasuluLlah SallaLlaahu Alayhi Wasallam adalah kecintaan, namun sunnah-Nya kau tinggalkan. Kau katakan ingin masuk surga, tapi tak pernah berhenti berbuat dosa. Tak henti-hentinya kau sibukkan dirimu dengan kesalahan saudaramu sendiri, padahal engkau pun bukan manusia suci. Saat kau kebumikan sahabat-sahabat yang telah mendahului, mengapa kau mengira dirimu tak akan pernah mati?
AstaghfiruLlah al 'adzim...
Duhai Allah...
Engkau yang Maha Mendengar
Dengarkan munajat ini yaa Robbi, berilah kesempatan untuk selalu memperbaiki diri
Jadikan diri ini bersih, hingga saat menghadapMu nanti
Allaahumma hawwin 'alainaa fii sakaraatil maut
Allaahumma hawwin 'alainaa fii sakaraatil maut
Allaahumma hawwin 'alainaa fii sakaraatil maut
Ringankan kematianku yaa Allah, mudahkanlah duhai Pemilik Jiwa
Jadikan hati ini ikhlas saat malaikat maut menyapa
Hingga kematian menjadi sangat indah, kematian yang khusnul khaatimah
Bila Airmata Tak Pupus Jua
Duri tajam itu memang menyakitkan
Karenanya sedu sedan seakan tak tertahankan
Namun...
Hidup ini pun tak pernah berhenti pada satu titik singgah
Lalu mengapa tak engkau hamparkan saja sajadah dan ratakan kening di atasnya?
Mohonkan ampun dalam hamburan do'a kepada Sang Pemilik Cinta
Nanar...
Pandangannya menerawang dari balik jendela kaca. Di luar sana, sang dewi malam masih bersinar temaram kekuningan. Tak henti memamerkan kecantikan pada setiap makhluk yang tersentuh cahayanya. Saat itu, dengan tangan gemetar dielusnya perut yang tampak semakin membesar.
Tak seindah rembulan, raut wajahnya kuyu dan kusam. Mata pun sembab karena ruah tangisan. Kepedihan itu masih saja menggurat, membuat tumpukan gundah dan keluh kesah yang semakin membuncah.
Kekecewaan jelas menyelubungi jiwa dan raganya. Kenangan itu memang sangat menyakitkan, karena telah direnggutnya sebuah nilai kesucian. Hati kecilnya berteriak, ingin berontak. Namun, kenyataan tak mungkin begitu mudah terhapuskan. Lelaki yang diharapkan mestinya bagaikan Pangeran, ternyata hanyalah seorang durjana. Memetik sari bunga, kemudian terbang entah kemana.
Berjuta impian tentang sebuah keluarga perlahan sirna. Mimpi akan kerinduan rumah mungil yang penuh canda tawa, hanya sekedar khayalan. Hasrat untuk mengukir jiwa-jiwa suci dan murni seakan tenggelam karena tiadanya pendamping seorang qawwam. Hari-hari lalu berganti dengan derai tangisan. Memilukan, sehingga menciptakan serpihan hati yang berserakan di mana-mana.
Perlahan, dilangkahkan kakinya ke pembaringan. Mencoba sejenak melepaskan lelah jiwa dan raga. Dipejamkannya mata, namun air bening tak mudah dibendungnya. Air mata itu mengalir, bahkan membasahi sarung bantal dan kapuk di dalamnya. Tubuhnya lemah, lunglai tiada daya. Di kesenyapan malam isaknya masih terdengar memilukan, menyiratkan penyesalan akan nasibnya yang telah ditoreh nista.
Esok menjelang, dan dengan rasa letih ia terjaga saat sinar mentari menerpa raut wajahnya. Jiwa yang rapuh itu seakan enggan menggerakkan raga. Tak berubah, tatapan matanya lantas kosong menerawang. Tak pula fitrah sebagai wanita menyapa kesadarannya akan detak kecil kehidupan di alam rahimnya. Perih itu masih ada. Luka pun masih menganga. Tanpa kuasa menahan segalanya, kembali air bening menerobos kelopak mata.
Duhai...
Apalah daya dirinya, jika kala itu setan telah pula mengambil peran. Sepercik darah yang mestinya tersaji setelah ikatan suci disimpulkan, tak akan pernah lagi dihidangkan. Belaian mesra yang diharapkan saat mereguk cinta di malam pertama pun hanyalah sekedar khayalan.
Aaah...
Indah harapan terkadang sangatlah berbeda dengan kenyataan. Namun, bila impian itu selalu saja dipenjara dalam jiwa, apakah ada beda antara keduanya? Penyesalan yang tiada kunjung usai pun bukankah dapat meranggas keimanan.
Duri tajam yang pernah menancap di jiwa memang sungguh menyakitkan. Tetapi hidup juga tidak pernah berhenti pada satu titik persinggahan. Waktu akan selalu menggulirkan siang dan malam atas titah Sang Pemiliknya. Lalu, mengapa tak usah hiraukan saja torehannya, bila itu justru akan membuat hidup ini akan jauh lebih berharga.
Hapuslah air mata, hentikan juga sedu sedan. Bila akhir sepertiga malam menjelang, hamparkan sajadah dan ratakan kening di atasnya. Kemudian, tengadahkan telapak tangan seraya memohon ampunan dalam jutaan butir do'a. Bersimpuh, seraya merenungkan semua kekhilafan tentu akan lebih menenangkan jiwa.
Sabarlah...
Tiada seorang jua di dunia yang bersih dari segala dosa dan noda. Pun, masih pula tersedia banyak lembaran kertas untuk menggoreskan kehidupan yang lebih bermakna. Tataplah keindahan alam di luar sana, dengar dan rasakan senandung tasbih serta tahmid yang tak henti dialunkan penghuninya. Belajarlah dari mereka yang tercipta tidak sempurna seperti manusia, namun tak pernah berkeluh kesah akan nasibnya.
Semoga.
-Tulisan ini telah dimuat di buku Sapa Cinta dari Negeri Sakura-



